Debat Kedua Kandidat Dalam Pilgub Sulsel Menjadi Mimbar Lawak

Makassar BUSERENEWS.COM – Sejak pasca debat pilgub tahap kedua di Metro TV, Jakarta (19/04/2018), banyak komentar yang muncul mulai dari pujian rekayasa hingga cercaan serius yang menyudutkan satu sama lainnya.

Bahkan ada yang menilai bahwa debat pilgub tahap dua ini bagaikan cerdas cermat dan quis berhadiah yang mana lebih buruk dari debat tahap pertama, apalagi bila dibandingkan dengan kualitas debat pilgub  Provinsi Jawa Tengah kemarin malam (20/04/2018).

Ketika awak media mencoba meminta tanggapan Founder BRORIVAI CENTER tentang debat pilgub Sulsel tahap dua, ia akhirnya juga memberikan komentar seputar debat itu. Awalnya ia enggan untuk komentar  karena merasa tidak etis mengingat posisinya pernah ikut sebagai balon.

Saya ini mau menanggapi tapi hanya seputar teknis dan substansi  penyelenggaran debat itu sendiri, bukan tertuju pada kualitas paslon, biar saja publik yang menilai dengan berbagai indikatornya, kata Bro Rivai yang juga pernah menjadi komentator debat pilpres 2014 lalu.

Intinya ada dua hal yang perlu diperhatikan; pertama, debat pilgub ini tidak nampak terdisain untuk suatu debat gagasan yang terstruktur secara baik dan visioner, tapi lebih pada acara yang layaknya seperti cerdas cermat.

Kedua, meskipun ada pengaturan waktu, lalu lintas debat cenderung lepas dan tidak ada peringatan para paslon bila membahas sesuatu hal yang sama sekali tidak berhubungan dengan pertanyaan, sehingga debat terkesan seperti “jaka sembung bawak golok”, jelasnya.

Ia menilai hanya nampak seperti ajang evaluasi kinerja dan pengalaman masing masing paslon yang tidak relevan seperti pengalaman kabupaten, organisasi dan perusahaan, sehingga terkesan menjadi mimbar lawak, ungkap Bro Rivai yang juga selalu menjadi narasumber di Metro TV.

Terlepas dari lebih kurangnya dari penyelenggaraan itu, debat yang dihasilkan sesungguhnya menjadi alat ukur bagi masyarakat untuk menentukan pilihannya yang terbaik, atau sebaliknya momentum ini dapat merubah persepsi pemilih dan mengangkat  elektabilitas paslon itu sendiri.

Karena itu, sebenarnya banyak yang dapat dinilai dan dikoreksi secara rinci khususnya performa dan jawaban yang masih relatif mengambang dan belum sepenuhnya mampu menjawab substansi debat dan uji paslon, imbuhnya.

Debat tahap kedua ini banyak menimbulkan komentar miring, tapi kali ini, Bro Rivai hanya menanggapi sisi yang berbeda dari yang lain karena ia tidak ingin terjebak pada arahan preferensi paslon tertentu dan tetap netral serta sebatas sebagai ilmuwan politik. (Hidayat)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*